FAI UNU BLITAR BEKERJASAMA DENGAN STIBADA MASA DALAM MELAKUKAN TRI DHARMA

Pada hari Jumat (1/4/2022) telah dilakukan penandatanganan kerjasama antara Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar dengan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel (STIBADA MASA) Surabaya. Acara tersebut diselenggarakan di Ruang Aula lantai II Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya. Penandatanganan pertama dilakukan oleh Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar dan diteruskan penandatanganan kedua oleh Lili Musyafa’ah, M.Pd., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya.

Ketika dimintai penjelasan kerjasama tersebut, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., menyatakan, “Kita melakukan kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya dengan beberapa alasan. Pertama, banyak literatur dan ajaran Islam yang menggunakan Bahasa Arab, oleh karena itu bekerjasama dengan lembaga yang tepat akan sangat membantu mahasiswa dalam mempelajari dan memahami agama Islam dengan baik dan benar. Kedua, mempelajari dan memahami Bahasa Arab termasuk salah satu bagian dari agama. Oleh karena itu, bekerjasama dengan lembaga yang memiliki fokus utama Bahasa Arab seperti Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya merupakan pilihan yang tepat. Telah dijelaskan oleh Sayyidina Umar yang menyatakan agar umat Islam mempelajari Bahasa Arab, sebab hal tersebut merupakan bagian dari agama”.

“Selain kita bekerjasama dalam bidang Bahasa Arab, kita juga bekerjasama dalam bidang dakwah penyiaran Islam. Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar yang telah memiliki program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) terasa sesuai bila melakukan kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya yang telah memasukkan nomenklatur dakwah dalam program studinya. Program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) UNU Blitar juga bisa bekerjasama dalam memahami Bahasa Arab, sebab seorang penafsir harus benar-benar paham Bahasa Arab dengan baik dan benar. Begitu pula dengan program-program studi lainnya ”, ujar pengampu mata kuliah Bahasa Arab untuk Anak Usia Dini di Universitas Nahdlatul Ulama Blitar tersebut.

Ketika dikonfirmasi hal menarik lain mengapa bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., menyatakan, “Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel yang berada satu lokasi dengan makam Sunan Ampel terasa selaras dengan kultur Nahdlatul Ulama yang memiliki tradisi berziarah ke makam para waliyullah. Dengan demikian, kerjasama antara Universitas Nahdlatul Ulama Blitar dan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya akan bisa mendekatkan civitas akademika pada ajaran Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyah”.

“Sebagai universitas yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, maka kita perlu mendekatkan civitas akademika dengan ajaran Walisanga yang mana mereka telah dijadikan simbol bintang sembilan pada logonya. Sunan Ampel merupakan salah satu sesepuh Walisanga dan sumber keilmuan Islam dari masa ke masa. Oleh karena itu, mendekat dan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya yang berada di lingkungan makam Sunan Ampel sudah terasa sangat tepat. Sebab kita bisa mengkonstruk peradaban Islam dari masa ke masa, salah satunya berdasarkan penggalian kearifan lokal (local wisdom) dari perjuangan Sunan Ampel. Apalagi jika dikaitkan dengan Nahdlatul Ulama yang mana banyak ulama dari keturunan generasi penerus Sunan Ampel yang terlibat, misalnya KH. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah PBNU pertama), KH. Mas Alwi Abdul Azis (pemberi nama Nahdlatul Ulama), KH. Ridwan Abdullah (pembuat logo Nahdlatul Ulama), dan lainnya”, ujar pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam UNU Blitar.

Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., melanjutkan, “Bukti bahwa Sunan Ampel merupakan sumber keilmuan dan peradaban Islam dari masa ke masa disebutkan dalam Kitab Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yakni murid kesayangan Kiai Ageng Hasan Besari Ponorogo, mursyid Tarekat Syattariyah, dan pujangga terakhir Kraton Surakarta yang menyatakan bahwa semua ilmu yang beliau ajarkan bersumber dari Sunan Ampel yang meyelaraskan pada dalil Quran, Hadist, Ijma, dan Qiyas. Penyebutan beliau pada empat dalil (Quran, Hadist, Ijma, dan Qiyas) tersebut, hingga saat ini tetap digunakan oleh Nahdlatul Ulama sebagai penggalian sumber hukum Islam”

“Hingga kini pula, Sunan Ampel masih tetap menjadi simbol sumber keilmuan dan peradaban Islam di nusantara. Beberapa perguruan tinggi yang mengabadikan nama beliau menjadi nama lembaga, antara lain: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang, dan lainnya. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa sosok Sunan Ampel dari masa ke masa tetap menjadi simbol sumber keilmuan dan peradaban Islam. Yang jelas harapan kami adalah mudah-mudahan kerjasama antara Universitas Nahdlatul Ulama Blitar dan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel ini membawa berkah dan manfaat yang besar bagi kami secara khusus dan bagi peradaban Islam di nusantara secara umum”, ungkap Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., mengakhiri pembicaraan. []