Puncak Resepsi Satu Abad NU dan Talqin Tarekat Qadiriyah

Hari Selasa (7/2/2023) keluarga besar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menghadiri acara Puncak Resepsi Satu Abad NU yang diselenggarakan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo Jawa Timur. Acara yang dihadiri puluhan ribu nahdliyin dan nahdliyat dari segala penjuru tanah air ini dihadiri oleh Prof. Dr. Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani dari Turki. Yakni, salah satu cucu keturunan generasi ke-25 dari Wali Qutub Sulthanul Auliya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang amalan-amalannya telah masyhur di bumi nusantara ini, seperti manaqib, tarekat, Shalawat Basyairul Khairat, Shalawat Munjiyat, Hizib Al-Jailani, dan lainnya.

Kehadiran Prof. Dr. Syaikh Muhammd Fadhil Al-Jailani tersebut untuk mengisi acara pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang dijadwalkan pukul 01.00-02.00 WIB. Usai pembacaan manaqib, Syaikh Fadhil mengulas tentang wasiat Sayyidah Fatimah (Sang Ibu) kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di saat awal penempuhan suluknya. Dalam sebuah penempuhan, yang paling utama harus direalisasikan dalam diri adalah kejujuran (shidq). Dari kejujuran (shidq) inilah seorang penempuh akan bisa naik ke maqamat dan ahwal berikutnya. Tanpa kejujuran (shidq), mustahil penempuhan-penempuhan terkait maqamat dan ahwal berikutnya akan tercapai, sebab kejujuran (shidq) adalah kunci utama dalam sebuah penempuhan.

“Hari ini saya akan mentalqin dan memberikan ijazah Tarekat Qadiriyah kepada kalian semua. Semua tarekat adalah bagus untuk diamalkan. Talqin ini saya lakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali, kemudian kepada Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain dan seterusnya kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan para guru-guru hingga kepada saya. Hari ini, saya juga akan mengijazahkan amalan shalawat sebanyak 313 kali setiap hari. Juga, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki rutinan Shalawat Basyairul Khairat yang agung faedahnya”, ungkap Prof. Dr. Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani dalam acara tersebut.

Ketika dikonfirmasi hal tersebut, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., salah satu peserta dan Dekan Fakultas Agama Islam UNU Blitar menyatakan bahwa acara puncak resepsi satu abad NU tersebut sangat berarti bagi perjuangan dan perkembangan NU ke depan. Menurutnya, acara resepsi yang dilakukan selama 24 jam nonstop ini harus menjadi awal perjuangan NU untuk menyongsong perjuangan di abad keduanya. Banyak bangunan NU mulai dari lembaga dan banom yang telah didirikan para mu’assis NU yang harus terus diperjuangkan dan menjadi tempat khidmah para generasi mendatang, termasuk di dalamnya wadah tarekat.

“Alhamdulillah, saya benar-benar menikmati acara resepsi satu abad NU ini, terutama ketika acara talqin dan ijazah Tarekat Qadiriyah dari Prof. Dr. Syaikh Muhammad Fadhil Al-Jailani, keturunan langsung dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Bagi saya, ini adalah acara yang sangat membahagiakan. Apalagi, saya secara pribadi memang sangat menyukai karya-karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, terutama dalam Kitab Sirrul Asrar yang benar-benar fokus mengulas sebuah penempuhan dari tahap ke tahap. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab tersebut benar-benar mewanti-wanti untuk talqin pada pohon yang sangat kuat. Yakni, sebuah pohon yang akarnya menghujam ke bumi, sementara cabang-cabangnya mencapai langit ketujuh, bahkan Arsy”, ungkap Dr. Arif Muzayin Shofwan mengakhiri.