Ijazah Amalan Muassis dalam Acara Resepsi Satu Abad Nahdlatul Ulama
Pada hari Selasa (7/2/2023) keluarga besar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menghadiri acara Puncak Resepsi Satu Abad NU yang diselenggarakan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo Jawa Timur. Acara yang dihadiri puluhan ribu nahdliyin dan nahdliyat dari segala penjuru tanah air ini menghadirkan KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy (yakni salah satu cucu keturunan dari KH. Raden As’ad Syamsul Arifin, Sang Penyampai Wasilah Pendirian Nahdlatul Ulama), Habib Lutfi bin Ahmad Al-Attas, dan Habib Muhammad Lutfi bin Yahya.
Kehadiran KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy tersebut diberi amanah oleh panitia penyelenggara untuk mengisi kegiatan Qiyamul Lail (pengamalan Ratib Al-Attas dan Asmaul Husna) yang dijadwalkan pukul 02.00-03.00 WIB. Oleh karena situasi yang tidak memungkinkan, maka acara qiyamul lail dibatalkan, kemudian dilangsungkan Ijazah Kubra yang dilakukan oleh KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy. Ada beberapa amalan yang diijazahkan dalam rangkaian acara ini, antara lain Shalawat Nuri Dzati karya Syaikh Abul Hasan As-Syadzili, Shalawat Munjiyat karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Shalawat Nariyah karya Syaikh Ibrahim At-Tazi, hizib-hizib para wali, amalan awal berdirinya NU, dan lainnya.
“Malam ini, saya ijazahkan amalan yang dirutinkan oleh Mbah KH. Raden As’ad Syamsul Arifin, antara lain berbagai shalawat dan ahzab (hizib-hizib) para waliyullah. Salah satu amalan yang dirutinkan Mbah KH. Raden As’ad Syamsul Arifin adalah membaca Basmallah sebanyak 1000 x (seribu kali) di setiap akan tidur malam hari. Silahkan bagi yang ingin mengamalkan, sudah saya ijazahkan. Namun apabila jumlah tersebut terlalu banyak, bisa diganti jumlahnya dengan 313 x (tigaratus tigabelas kali) ketika akan tidur di malam hari”, ungkap KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy saat memberikan ijazah amalan dalam acara tersebut.
Dalam acara puncak tersebut, KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy juga mengijazahkan amalan “Ya Jabbar Ya Qahhar” dari Syaikhona Muhammad Kholil untuk disampaikan KH. Raden As’ad Syamsul Arifin kepada KH. Hasyim Asyari. Tata caranya adalah “Ya Jabbar” dibaca 99x, kemudian diakhiri dengan bacaan “Ya Jabbar” sambil meretas dari ujung tasbih sampai selesai sebanyak 3x. Selanjutnya “Ya Qahhar” dibaca 99x, kemudian diakhiri dengan bacaan “Ya Qahhar” sambil meretas dari ujung tasbih sampai selesai sebanyak 3x. Filosofi dari meretas dalam amalan ini di antaranya agar yang berbuat aniaya kepada NU dibimbing kembali oleh Allah dengan niat yang benar tanpa harus ada yang brodol sebagaimana ketika tasbih tersebut diretas.
“Alhamdulillah, banyak ilmu dan hikmah yang ditularkan oleh para kiai dalam acara Puncak Satu Abad NU di Sidoarjo kemarin. Dari ijazah amalan “Ya Jabbar Ya Qahhar” tersebut misalnya, amalan tersebut sangat bagus diamalkan oleh para nahdliyin dan nahdliyat yang berniat mengamalkan. Tentu saja harus sesuai niat dari para mu’assis NU, terutama Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan ketika mengijazahkan amalan tersebut kala itu – sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Raden Ahmad Azaim Ibrahimy dalam kegiatan tersebut”, ungkap Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd sebagai salah satu peserta sekaligus Dekan Fakultas Agama Islam UNU Blitar ketika dikonfirmasi.