Saman Dance, Tarian Sufi Unggulan UNU Blitar

Pada hari Sabtu (18/2/2023) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Widya Kirana Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar yang dibina oleh Ervin Noviana, M.Pd. dipercaya kembali oleh PCNU Kabupaten Blitar untuk menampilkan Tari Saman dalam acara Konfercab XVIII Nahdlatul Ulama Kabupaten Blitar. Acara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Jeblog Talun Blitar tersebut dibuka oleh KH. Miftakhul Akhyar selaku Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta.

Menurut Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Agama Islam UNU Blitar menyatakan bahwa pada awalnya Tari Saman merupakan seni tradisional Tepuk Pok Abe dari Suku Gayo, Aceh. Kemudian tepuk tersebut dikreasikan dan diciptakan oleh Syaikh Saman menjadi Tari Saman. Akan tetapi, Syaikh Saman yang dimaksud hingga kini masih ada dua pendapat. Setidaknya ada dua Syaikh Saman dalam hal ini, yaitu:

Pertama, Syaikh Saman Al-Hasan Gayo (abad ke-14 M). Seorang ulama ahli tasawuf penyebar Islam masyarakat Suku Gayo, Aceh. Sosok inilah yang dianggap mengkreasikan seni tradisional Tepuk Pok Abe hingga menjadi Tari Saman yang sangat indah.

Kedua, Syaikh Saman Al-Madani (abad ke-17 M). Yang nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Madani, seorang ahli tasawuf pendiri tarekat Samaniyah. Menurut pendapat kedua ini, Syaikh Saman Al-Madani yang dimaksud inilah yang merupakan guru dari Syaikh Abdushomad Al-Palimbangi dan dianggap pencipta Tari Saman.

Selanjutnya, pada tanggal 24 November 2011, Tari Saman (Saman Dance) oleh UNESCO ditetapkan sebagai warisan budaya dalam Sidang Ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda di Bali. 

“Saya yang paling suka dari UNU Blitar dalam acara malam ini adalah tampilan Tari Saman. Tariannya bagus sekali dan penuh kekompakan”, ungkap Kang Abdul Azis, selaku Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) usai pembukaan acara tersebut.

Sementara itu, Gus Ahmad Khubby Ali Rahmat selaku Pengasuh Pondok Pesantren Maftahul Ulum Jatinom yang merupakan tamu undangan dalam acara tersebut menambahkan bahwa kekompakan dan kebersamaan dalam tarian tersebut menjadi sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Menurutnya, tidak mudah melakukan tarian tersebut dengan penuh kekompakan dalam gerakan tari, bertepuk, dan semacamnya.