Tradisi Megengan untuk Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Pada hari Kamis (16/3/2023) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRODI) Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar mengadakan acara bertajuk “Mengengan, Khataman Al-Quran, Tahlil, dan Doa Bersama” di Masjid Graha NU Minggirsari Kanigoro Blitar. Acara yang diketuai oleh Muhammad Sa’dan tersebut dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1444 H.

Dalam acara tersebut, Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Agama Islam UNU Blitar diminta untuk memberikan ceramah singkat. Adapun ceramah singkat yang disampaikan mengambil tema “Tradisi Megengan untuk Menyambut Bulan Suci Ramadhan”.

“Anak-anak jaman dahulu, ketika menyambut bulan Ramadhan selalu bersenandung menyambutnya riang gembira dengan mendendangkan lagu dolanan sambil bermain-main”, ungkap Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd.

Dr. Arif Muzayin Shofwan menjelaskan bahwa lagu yang didendangkan anak-anak jaman dahulu untuk menyambut tamu (dhayoh) berupa Bulan Suci Ramadhan adalah lagu dolanan “E, Dhayohe Teka” sebagaimana berikut: “E, dhayohe teko, E, beberna klasa. E, klasane bedhah, E, tambalen jadah. E, jadahe mambu, E, pakakna asu. E, asune mati, E, kintirna kali. E, kaline banjir, E, kelekna pinggir. E, pinggire lunyu, E, yo golek sangu”.

Artinya “dhayohe teka” itu tamu bulan suci Ramadhan. Sedangkan “beberna klasa” artinya agar digelarkan tikar berupa niat yang suci untuk menyambut bulan suci tersebut. Dalam menyambut bulan suci tersebut harus melakukan “megengan” artinya berhenti sejenak untuk menghormati bulan tersebut dengan tahlil kirim doa kepada leluhur baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Ada yang mengistilahkan “megengan” dengan istilah “unggahan” yang artinya juga sama, yakni sebagai penghormatan akan datangnya bulan suci Ramadhan.

Sementara itu, ungkapan “E, klasane bedhah, E, tambalen jaddah”, artinya apabila tikar yang berupa niat suci melakukan puasa Ramadhan tersebut “bedhah” (robek), maka hendaknya ditambal dengan “jaddah”, artinya sebuah kesungguhan untuk merealisasikan puasa Ramadhan sebulan penuh. Sebab ada ungkapan “man jadda wajada”, artinya barangsiapa bersungguh-sungguh melakukannya, maka dia akan menemukan realisasi dari kesungguhan tersebut.

Selanjutnya, jika “jadahe mambu” artinya apabila kesungguhan (jadda) dalam menjalankan niat puasa tersebut kedaluarsa (mambu) atau tidak dimiliki, maka hal tersebut sudah termasuk sebuah kejelekan (asu/ “as-su’). Kejelekan (as-su’) harus dibuang atau ditempatkan di tempat yang tepat (dilarung dalam sungai/kali; tradisi Jawa). “Mbuwang sengkala” disimbulkan dalam lelarung dalam sungai/kali. Ketika di pinggir sungai/kali harus hati-hati sebab sungai/kali yang dimaksud ini sangat licin, oleh karenanya harus tetap “golek sangu” berupa ilmu pengetahuan.

“Tradisi megengan atau unggahan memang dilakukan nenek moyang kita untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Bulan suci Ramadhan merupakan tamu suci yang diutus Tuhan untuk dipenuhi segala hajatnya dan era dulu disambut dengan lagu dolanan “E… Dhayohe Teka” atau dengan ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan” di era sekarang”, ungkap Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. selaku penceramah yang mengisi acara tersebut.